KOTAMOBAGU — 19 Agustus 2026 – Di tengah suasana duka pascatragedi drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, perhatian terhadap keluarga korban menjadi sorotan berbagai pihak.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garda Timur Indonesia (GTI) mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Kotamobagu yang dinilai menunjukkan kepedulian terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Umum DPP GTI, Fikri Alkatiri, menilai pendampingan yang dilakukan pemerintah menjadi bagian penting dalam membantu keluarga korban melewati masa sulit.
Menurut Fikri, dalam situasi seperti ini, kehadiran pemerintah tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk kebijakan, tetapi juga melalui kepedulian dan pendampingan secara langsung.
“Di tengah suasana duka seperti ini, yang dibutuhkan keluarga korban adalah kepedulian, ketenangan dan dukungan. Kami mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Kotamobagu yang memberikan perhatian kepada keluarga korban,” ujar Fikri.
Wali Kota Kotamobagu, dr. Weny Gaib, Sp.M., sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Pemerintah juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak memperkeruh suasana dengan informasi yang dapat memicu konflik.
Wali Kota meminta masyarakat menjaga perasaan keluarga korban dan tidak menjadikan tragedi tersebut sebagai ruang untuk saling menyalahkan.
Bagi Fikri, pesan tersebut penting untuk menjadi perhatian bersama.
Fikri: Jangan Mudah Terprovokasi
GTI mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Fikri menegaskan, tragedi yang telah menimbulkan duka tersebut jangan sampai berkembang menjadi persoalan baru akibat munculnya narasi provokatif dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang. Jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan sampai informasi liar justru menambah beban keluarga korban yang saat ini sedang berduka,” tegasnya.
Ia mengatakan, masyarakat tetap memiliki hak untuk mempertanyakan dan mengawal proses penanganan tragedi. Namun, penyampaian pendapat harus dilakukan secara bijak dan tidak mengarah pada tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.
“Kalau ada yang perlu dipertanyakan, mari kita kawal melalui jalur yang benar. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu berubah menjadi permusuhan,” kata Fikri.
GTI juga mendorong agar proses penanganan dan pengusutan tragedi berjalan secara profesional, transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Menurut Fikri, kepentingan keluarga korban harus tetap menjadi perhatian utama. Mereka membutuhkan ruang untuk berduka, bukan tambahan tekanan akibat polemik di tengah masyarakat.
Doa dan Kepedulian Jadi Kekuatan Baru
Fikri menilai tragedi Upai seharusnya menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian.
“Doa dan kepedulian kita kepada keluarga korban diharapkan bisa menjadi semangat baru bagi mereka untuk menghadapi masa sulit ini. Jangan ada luka baru di tengah duka,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat Kotamobagu dan seluruh pihak untuk menjaga persaudaraan serta memberikan kepercayaan kepada pihak-pihak yang berwenang dalam menjalankan proses penanganan dan pengusutan tragedi.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah empati, persatuan dan informasi yang benar. Jangan jadikan tragedi ini sebagai alasan untuk memecah masyarakat,” pungkas Fikri.
Usman Musa














