BITUNG — Aktivis 98 Sulawesi Utara, Polo Boven, akhirnya angkat bicara terkait tuntutan kesejahteraan buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Kota Bitung yang hingga kini dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah maupun pihak terkait.
Dalam diskusi refleksi Hari Buruh yang berlangsung di Boshe Kaffe, Kelurahan Bitung Timur, Kecamatan Maesa, Kota Bitung, Rabu (20/5/2026), Polo Boven menegaskan bahwa persoalan upah buruh bukan sekadar isu biasa, melainkan persoalan keadilan sosial yang menyangkut kehidupan ribuan pekerja dan keluarga mereka.
“Buruh jangan hanya dijadikan alat penggerak ekonomi, tetapi kesejahteraan mereka diabaikan. TKBM adalah tulang punggung aktivitas pelabuhan dan distribusi barang di Sulawesi Utara,” tegas Polo Boven.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyoroti kondisi buruh bongkar muat di Terminal Petikemas Bitung (TPB) yang disebut belum pernah menikmati kenaikan upah, meski Upah Minimum Provinsi (UMP) telah mengalami kenaikan hingga lima kali.
“Ini ironi. Ekonomi bergerak, aktivitas pelabuhan terus berjalan, perusahaan berkembang, tapi buruh tetap hidup dalam tekanan ekonomi,” ujarnya keras.
Polo juga mengingatkan sejarah perjuangan buruh TKBM Bitung pada tahun 2018 silam yang sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi daerah selama beberapa jam dan menyebabkan kerugian miliaran rupiah.
“Jangan anggap remeh suara buruh. Ketika mereka bergerak, dampaknya besar terhadap roda ekonomi daerah. Pemerintah jangan tunggu situasi memanas baru turun tangan,” katanya.
Menurutnya, pemerintah daerah, pengelola pelabuhan, serta instansi terkait harus segera membuka ruang dialog dan mengambil langkah konkret terkait tuntutan kenaikan upah buruh TKBM.
“Kalau tuntutan sederhana soal kesejahteraan terus diabaikan, maka jangan salahkan jika suatu saat gelombang aksi besar kembali terjadi. Negara harus hadir untuk melindungi buruh, bukan membiarkan mereka terus menjerit,” tutup Polo Boven.
(Sultan M)














