BITUNG, 1 Juni 2026 — Muzakir Boven, yang akrab disapa Polo, kembali angkat bicara menyoroti kondisi warung kopi (warkop) yang selama ini menjadi pusat pertemuan dan ruang diskusi bagi para aktivis, pegiat LSM, insan pers, serta pemerhati politik di Kota Bitung. Menurutnya, fasilitas di tempat-tempat tersebut masih sangat minim dan jauh dari kata layak untuk menampung kegiatan pertukaran gagasan publik.
Polo mengungkapkan, secara umum lokasi yang dimanfaatkan saat ini memiliki kondisi yang memprihatinkan. Selain area yang terasa sempit dan kurang lega, sarana pendukung lainnya pun sangat terbatas. Hal ini tentu membuat suasana menjadi kurang nyaman, padahal tempat tersebut berfungsi sebagai wadah utama untuk berdiskusi, membahas berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, hingga merumuskan solusi bagi daerah.
“Warkop itu bukan sekadar tempat minum kopi atau berkumpul biasa. Di sinilah banyak ide cemerlang, kritik membangun, masukan, dan gagasan besar untuk kemajuan daerah ini lahir. Namun sangat disayangkan, fasilitas yang tersedia saat ini masih jauh dari memadai dan layak,” ujar Polo saat diwawancarai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut penilaiannya, kondisi tersebut terjadi karena masih minimnya perhatian serius dari pemerintah daerah terhadap keberadaan ruang-ruang publik yang memiliki nilai strategis ini. Padahal, tempat berkumpul ini menjadi saluran utama bagi para aktivis, wartawan, dan pegiat sosial untuk menyampaikan aspirasi masyarakat serta mengawasi jalannya pembangunan.
Oleh karena itu, Polo berharap Pemerintah Kota Bitung dapat lebih peduli dan peka terhadap kebutuhan komunitas diskusi publik. Ia menekankan bahwa keberadaan tempat yang nyaman, luas, dan representatif akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pemikiran yang dihasilkan. Tempat yang baik akan mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran konstruktif yang nantinya bisa menjadi masukan berharga bagi kemajuan pembangunan daerah.
“Jangan hanya fokus membangun infrastruktur fisik berupa jalan atau gedung saja. Ruang diskusi bagi anak-anak muda, aktivis, LSM, wartawan, dan pemerhati politik juga perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya. Dari tempat-tempat seperti inilah sering kali lahir kritik tajam sekaligus solusi terbaik untuk Kota Bitung,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Polo kembali menyuarakan harapan agar ke depannya pemerintah dapat menghadirkan atau memfasilitasi ruang publik yang lebih baik dan tertata. Hal ini bertujuan agar aktivitas diskusi, edukasi politik, hingga penyampaian aspirasi masyarakat dapat berjalan dengan nyaman, aman, dan jauh lebih produktif demi kemajuan kota tercinta.(Red)














