SULAWESI UTARA – Suasana hangat penuh kekeluargaan akhirnya menutup polemik yang sempat menjadi perhatian publik di Kota Bitung. Setelah melalui dialog terbuka dan penuh ketulusan, Komandan Satuan Patroli (Dansatrol) Kodaeral VIII Bitung, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D bersama Ketua Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ) Sulawesi Utara, Ahmad Nuri, sepakat menyelesaikan seluruh kesalahpahaman dengan semangat persaudaraan dan kebersamaan.
Pertemuan yang berlangsung pada Minggu (24/5/2026) tersebut berjalan dalam suasana damai, hangat, dan saling menghargai. Dihadiri pula oleh sejumlah insan pers, momen itu menjadi ruang klarifikasi sekaligus penguat komitmen bersama untuk menjaga kerukunan antarwarga di Sulawesi Utara, khususnya Kota Bitung yang selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan keharmonisan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan tersebut, Dansatrol menyampaikan secara terbuka bahwa tidak pernah ada niat sedikit pun dari dirinya maupun jajaran personel yang dipimpinnya untuk menyinggung ataupun menyerang etnis, suku, maupun kelompok masyarakat tertentu. Ia menjelaskan bahwa pernyataan yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik merupakan ungkapan spontan dalam konteks internal yang kemudian berkembang menjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Dengan penuh ketulusan, Dansatrol juga menyampaikan permohonan maaf apabila pernyataan tersebut menimbulkan rasa kurang nyaman di hati sebagian masyarakat. Menurutnya, persatuan dan kebersamaan tetap menjadi nilai utama yang harus dijaga bersama sebagai sesama anak bangsa.
Ketua KKJ Sulawesi Utara, Ahmad Nuri, menyambut baik penjelasan tersebut dan menilai bahwa persoalan yang sempat berkembang hanyalah akibat perbedaan penafsiran yang kini telah dipahami secara utuh. Ia menegaskan bahwa hubungan kekeluargaan dan persaudaraan antarwarga di Sulawesi Utara harus tetap dijaga agar tidak mudah terpecah oleh kesalahpahaman.
“Kami percaya bahwa semua bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan hati yang terbuka. Yang terpenting hari ini adalah semangat persaudaraan tetap terjaga dan masyarakat kembali tenang,” ujarnya.
Pertemuan ini menjadi simbol kuat bahwa masyarakat Bitung dan Sulawesi Utara memiliki kedewasaan dalam menyelesaikan persoalan melalui dialog damai dan pendekatan kekeluargaan. Kini, suasana yang sebelumnya sempat memanas telah berubah menjadi semangat baru untuk terus menjaga harmoni, toleransi, dan persatuan di tengah keberagaman.
Dengan tercapainya kesepahaman tersebut, seluruh pihak menyatakan bahwa persoalan telah selesai secara baik-baik. Bitung kembali teduh, dan semangat persaudaraan kembali dikukuhkan demi menjaga kedamaian bersama di Tanah Nyiur Melambai.
(Red.Uber)














