
MANADO – 20 Maret 2026 – Penunjukan Stevie Sumampouw sebagai Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Sulawesi Utara bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Ini adalah sinyal keras bahwa posisi strategis tidak lagi bisa diisi oleh figur yang minim pengalaman.
Ketua Forum Media Pewarta Sulawesi Utara (FMPS), Wisje Maramis, secara tegas menyebut bahwa keputusan ini mencerminkan kebutuhan nyata akan kepemimpinan yang kuat, teruji, dan tidak kompromi terhadap tantangan di lapangan.
- “Ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal kapasitas. Dan Stevie Sumampouw punya itu,” tegas Wisje dengan nada serius.
Dalam konteks nasional, FKDM memegang peranan vital sebagai sistem deteksi dini terhadap potensi konflik sosial, gangguan keamanan, hingga dinamika yang bisa mengganggu stabilitas daerah. Karena itu, penempatan figur di dalamnya tidak boleh asal-asalan.
Wisje menilai, rekam jejak Stevie Sumampouw dalam memimpin berbagai organisasi, termasuk sebagai Ketua LPK-RI Sulut dan Koordinator wilayah Indonesia Timur, menjadi bukti konkret bahwa yang bersangkutan bukan pemain baru.
- “Ini orang lapangan. Bukan figur karbitan. Dia tahu bagaimana membaca situasi dan bertindak cepat,” lanjutnya.
Pelantikan yang dilakukan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, juga mempertegas bahwa FKDM adalah instrumen strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas daerah.
Dalam arahannya, gubernur secara terang menyebut FKDM sebagai “mata dan telinga” pemerintah—sebuah istilah yang mengandung makna tanggung jawab besar dan tidak bisa dijalankan oleh sosok yang lemah secara kepemimpinan.
Pernyataan itu sekaligus menjadi peringatan bahwa ke depan, FKDM harus bergerak lebih tajam, lebih cepat, dan lebih responsif terhadap setiap potensi gangguan di tengah masyarakat.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan sosial semakin kompleks. Isu konflik, perpecahan, hingga gangguan keamanan bisa muncul kapan saja. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan yang ragu-ragu justru akan menjadi ancaman.
Karena itu, kehadiran Stevie Sumampouw di pucuk FKDM Sulut dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak.
Publik kini menunggu pembuktian. Bukan sekadar jabatan, tetapi aksi nyata.
Jika FKDM benar-benar ingin menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas, maka kerja cepat, koordinasi kuat, dan keberanian mengambil sikap harus menjadi fondasi utama.
Dan di titik inilah, kepemimpinan Stevie Sumampouw akan diuji.
Apakah mampu menjawab ekspektasi besar? Atau justru tenggelam dalam rutinitas birokrasi?
Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti—publik tidak lagi butuh janji. Publik butuh bukti. (Red)
