GEOTHERMAL TALAGA RANU JANGAN DISANDERA KETAKUTAN: INI PELUANG RAKSASA UNTUK LOMPATAN EKONOMI HALMAHERA BARAT!

GEOTHERMAL TALAGA RANU JANGAN DISANDERA KETAKUTAN: INI PELUANG RAKSASA UNTUK LOMPATAN EKONOMI HALMAHERA BARAT!

Spread the love

 

 

HALMAHERA BARAT, 28 Februari 2026 – Polemik geothermal di Talaga Ranu terus bergulir dan memantik perdebatan tajam di tengah masyarakat. Namun di balik riuhnya kekhawatiran dan isu liar yang beredar, tersimpan satu fakta besar: Halmahera Barat sedang berdiri di depan peluang strategis yang bisa mengubah wajah ekonomi daerah secara fundamental.

Tokoh Pemuda Halmahera Barat, Raffy Wadja, menegaskan bahwa potensi panas bumi di Talaga Ranu tidak boleh dilihat dengan cara berpikir lama yang sempit dan reaktif.

  • “Dunia sedang bergerak menuju transisi energi. Energi fosil ditinggalkan, energi terbarukan menjadi arah kebijakan global. Jika kita terus terjebak pada ketakutan tanpa solusi, kita akan tertinggal jauh,” tegas Raffy.

Isu geothermal Talaga Ranu bukan sekadar persoalan lokal. Ini bagian dari agenda energi nasional dan global. Pemerintah pusat melalui kebijakan transisi energi membuka ruang besar bagi daerah yang memiliki potensi panas bumi untuk menjadi pusat pertumbuhan baru.

Namun Raffy mengingatkan, investasi tidak boleh berjalan dengan pola eksploitatif seperti masa lalu.

Merujuk pemikiran dalam buku The Blue Economy karya Gunter Pauli, ia menekankan bahwa sumber daya alam harus menghasilkan manfaat berlapis bagi masyarakat, bukan hanya keuntungan tunggal bagi investor.

  • “Dalam konsep Blue Economy, satu sumber daya harus melahirkan multiple cash flow. Geothermal Talaga Ranu tidak boleh berhenti pada listrik. Ia harus mendorong UMKM, pertanian modern berbasis energi panas sisa, penciptaan lapangan kerja pemuda, dan peningkatan PAD,” ujarnya lantang.

Menurutnya, Talaga Ranu harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, bukan sekadar titik eksploitasi energi.

Ia juga menegaskan bahwa kekhawatiran masyarakat soal dampak lingkungan adalah hal wajar dan harus dihormati. Namun solusi bukanlah menolak mentah-mentah, melainkan memperkuat kajian lingkungan, transparansi, dan pengawasan publik secara ketat.

  • “Geothermal bukan musuh. Ia adalah instrumen. Yang menentukan hasilnya adalah tata kelola dan keberpihakan kebijakan. Kalau dikelola dengan benar, ini bisa jadi lompatan sejarah bagi Halmahera Barat,” tegasnya.

Raffy juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton.

  • “Momentum ini tidak boleh lepas. Jika kita pasif, orang luar yang menentukan masa depan kita. Generasi muda harus terlibat, mengawasi, dan memastikan geothermal benar-benar membawa kesejahteraan masyarakat.”

Talaga Ranu hari ini bukan sekadar isu panas bumi. Ia adalah simbol pilihan arah pembangunan Halmahera Barat: tetap bertahan dalam ekonomi tradisional yang stagnan, atau berani melompat menuju ekonomi berkelanjutan yang produktif dan berkeadilan.

Halmahera Barat memiliki kesempatan langka. Pertanyaannya, apakah kita siap mengelolanya dengan keberanian dan kecerdasan — atau justru membiarkannya berlalu karena ketakutan yang tidak terkelola?

Oleh: Raffy Wadja, Tokoh Pemuda Halmahera Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *