Bitung Darurat Sampah! Eks Pasar Kanopi Jadi Sorotan, Pemkot Dinilai Lalai Tangani Drainase dan Kebersihan

Bitung Darurat Sampah! Eks Pasar Kanopi Jadi Sorotan, Pemkot Dinilai Lalai Tangani Drainase dan Kebersihan

Spread the love

 

BITUNG, SULAWESI UTARA —  28 Maret 2026 – Wajah Kota Bitung kembali tercoreng. Pasca hujan deras yang mengguyur pada Sabtu (28/3/2026), kawasan Eks Pasar Kanopi berubah menjadi lautan sampah yang memprihatinkan. Kondisi ini memicu sorotan tajam terhadap kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung yang dinilai gagal mengantisipasi persoalan klasik yang terus berulang.

Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah plastik, kardus, dan limbah rumah tangga berserakan di badan jalan hingga menyumbat saluran drainase. Air hujan yang seharusnya mengalir lancar justru membawa sampah ke berbagai sudut, menciptakan pemandangan kumuh di pusat aktivitas ekonomi tersebut.

Situasi ini bukan kejadian pertama. Kawasan Eks Pasar Kanopi berulang kali dilanda persoalan serupa setiap kali hujan turun. Hal ini mempertegas dugaan lemahnya sistem pengelolaan sampah dan buruknya infrastruktur drainase yang belum dibenahi secara serius oleh Pemkot Bitung.

Warga dan pedagang pun mulai angkat suara. Mereka menilai penataan kawasan yang selama ini digaungkan pemerintah belum menyentuh persoalan mendasar, yakni kebersihan dan sistem pembuangan air yang memadai.

Beberapa persoalan krusial yang ditemukan di lapangan antara lain:

Sampah menumpuk di jalan dan area publik, mengganggu aktivitas masyarakat.

Saluran air tersumbat akibat minimnya pengangkutan sampah rutin.

Potensi banjir lokal meningkat jika hujan kembali terjadi.

Ancaman kesehatan akibat bau tidak sedap dan potensi berkembangnya penyakit.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana peran dan tanggung jawab instansi terkait? Dinas Lingkungan Hidup, Perumda Pasar, hingga SKPD terkait dinilai belum menunjukkan langkah tegas dan terukur dalam menangani persoalan ini.

Jika dibiarkan, masalah ini bukan hanya soal estetika kota, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan citra daerah. Kota Bitung yang seharusnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi justru terjebak dalam persoalan mendasar yang tak kunjung terselesaikan.

Publik kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar wacana. Pemkot Bitung dituntut segera turun tangan melakukan pembersihan total, pembenahan drainase, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah.

Jika tidak, maka kegagalan ini akan terus berulang—dan masyarakatlah yang kembali menjadi korban.

(H.U Thalib)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *