Bitung, 2 April 2026 — Gempa bumi yang mengguncang Kota Bitung, Jumat pagi, bukan sekadar getaran biasa. Di Kelurahan Bitung Barat Satu, dampaknya nyata dan memukul keras: sejumlah rumah warga roboh, sebagian lainnya rusak berat, meninggalkan trauma dan ketidakpastian bagi korban.
Di tengah situasi genting itu, pemerintah tak punya ruang untuk lambat. Camat Maesa, Fatmawati Soleman, S.STP bersama Lurah Bitung Barat Satu, Endalita Ch. Kansil, SAP langsung turun ke lokasi, menyisir titik-titik terdampak, memastikan kondisi warga, dan melihat langsung kerusakan yang terjadi.
Namun di balik kehadiran pemerintah, peran tokoh masyarakat justru menjadi penopang utama di lapangan. Tomi Nento tampil di garis depan, ikut menenangkan warga, membantu koordinasi, sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Kehadiran Tomi Nento bukan tanpa alasan. Saat kepanikan melanda, figur lokal yang dipercaya masyarakat menjadi kunci meredam situasi. Ia bersama warga bahu-membahu menghadapi dampak gempa, memastikan tidak ada korban yang terabaikan.
Sementara itu, pemerintah kecamatan bergerak dengan langkah cepat namun terukur. Pendataan kerusakan dilakukan secara intensif, kebutuhan mendesak warga mulai diinventarisasi, sebagai dasar percepatan bantuan.
Meski begitu, sorotan kini tertuju pada tindak lanjut. Warga berharap respons cepat ini tidak berhenti pada kunjungan lapangan semata, melainkan berlanjut pada aksi nyata: bantuan, perbaikan, dan kepastian bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.
Gempa telah terjadi. Kerusakan sudah nyata. Kini, yang diuji adalah seberapa cepat dan serius semua pihak bergerak — bukan hanya hadir, tapi benar-benar menyelesaikan.
(Usman Musa)
